Jumat, 03 Oktober 2008

Anak Kreatif – Tukang Cari Masalah

Kita sering sekali lihat anak-anak yang sulit diatur, anak yang terlalu aktif, dan membuat sang orang tua seringkali melarang aktivitas mereka, jengkel, kemudian memarahi bahkan kadang suka main tangan alias menghukum sang anak atas ketidakpatuhan mereka terhadap orang tua. hal tersebut sudah tidak asing lagi tatkala model pendidikan dalam keluarga masih bersifat tradisional, anak harus patuh pada orang tua (sendiko dhawuh).


Namun dalam hal ini, apabila keluarga dan lingkungan mampu mendampingi dan membimbing anak-anak tersebut dengan model pendidikan yang berbasis pada masalah, bukan saja itu sebagai sarana bermain yang menyenangkan bagi anak tapi juga sekaligus merupakan media pembelajaran kreatif. Tak ada cara mendidik yang lebih bagus selain mempraktekkannya langsung di lingkungan anak-anak sendiri dan mengenai masalah-masalah yang dihadapi si anak sendiri.

Dalam ruang lingkup pembelajaran berbasis masalah, anak berperan sebagai seorang professional dalam menghadapi permasalahan yang muncul, meskipun dengan sudut pandang yang tidak jelas dan informasi yang minimal, anak tetap dituntut untuk menentukan solusi terbaik yang mungkin ada. Seumpama pembelajaran ini diterapkan di kelas, maka pembelajaran berbasis masalah akan membuat perubahan dalam proses pembelajaran khususnya dalam segi peranan guru. Guru tidak hanya berdiri di depan kelas dan berperan sebagai pemandu siswa dalam menyelesaikan permasalahan dengan memberikan langkah-langkah penyelesaian yang sudah jadi melainkan guru berkeliling kelas memfasilitasi diskusi, memberikan pertanyaan, dan membantu siswa untuk menjadi lebih sadar akan proses pembelajaran. Banyak sekali kejadian-kejadian yang nantinya berlangsung dalam proses pembelajaran berbasis masalah. Diantaranya yang harus muncul adalah keterlibatan anak, inkuiri dan investigasi, penyajian temuan dan Tanya jawab. Keterlibatan anak disini meliputi mempersiapkan anak untuk berperan sebagai pemecah masalah yang bisa bekerja sama dengan pihak lain, menghadapkan siswa pada situasi yang mendorong untuk mampu menemukan masalah dan meneliti permasalahan sambil mengajukan dugaan dan rencana penyelesaian. Inkuiri dan investigasi mencakup kegiatan mengeksplorasi dan mendistribusikan informasi.

Dengan kejadian-kejadian yang muncul dalam proses pembelajaran berbasis masalah tersebut, akan membuat anak menjadi pembelajar yang mandiri dan kreatif, artinya ketika siswa belajar, maka siswa dapat memilih strategi belajar yang sesuai, terampil menggunakan strategi tersebut untuk belajar dan mampu mengontrol proses belajarnya, serta termotivasi untuk menyelesaikan belajarnya itu.

Tidak ada komentar: